Friday , 19 December 2014
Kotak Kado Internasional

Larangan Menembok dan Meninggikan Kuburan Menurut Syariat

Sebagai Muslim, kita tentu mencintai Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam. Dan salah satu bukti kecintaan kita kepada beliau adalah dengan mematuhi perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, maka jika aku mencegah kamu dari sesuatu, tinggalkanlah perkara itu dan jika aku perintahkan sesuatu kerjakanlah sekuat tenagamu. (HR. Buchory-Muslim)

Ketaatan kita kepada Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam adalah merupakan bukti ketaatn kita kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana firmanNya : Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS. An-Nisa 4 : 80)

Ketaatan kita kepada Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam juga merupakan bukti kecintaan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, senagaimana firmanNya : Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imron 3 : 31)

Banyak diantara kita umat islam yang mengaku mencintai dan mentaati Allah dan RasulNya, namun meninggalkan perintah Allah dan RasulNya, dan sebaliknya justru melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan RasulNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Salah satu perbuatan yang masih banyak dilakukan oleh umat islam adalah menembok kuburan orang yang sudah meninggal., baik dia itu orang yang berilmu atau orang awam, dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Dalil-Dalil Larangan Menembok Kuburan

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar mengutip hadits-hadits berikut :

1. Dari Sufyan At-Ramar,
Bahwasanya ia melihat kuburan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam digundukkan. (HR. Al-Bukhari)‏

2. Dari Al-Qasim, ia berkata,
“Aku masuk ke tempat Aisyah, lalu aku katakana, ‘Wahai Ibu, demi Allah, bukakanlah untukku kuburan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kedua sahabatnya’ Lalu Aisyahpun membukakan untukku ketiga kuburan yang tidak ditinggikan dan tidak pula diratakan, sementara diatasnya ada batu-batu kerikil merah’” (HR. Abu Darda)

3. Dari Abu Hayyaj Al-Asadi, dari Ali, ia mengatakan,
“Aku mengutusmu pada apa yang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mengutusku padanya : Janganlah engkau membiarkan berhala kecuali engkau menghancurkannya dan tidak pula kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah).

4. Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya,
“Bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menyirami kuburan anaknya, Ibrahim, dan meletakkan batu di atasnya,” (HR. Asy-Syafi’i)

5. Dari Anas,
“Bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam memberi tanda kuburan Utsman bin Mazh’un dengan batu besar” (HR. Ibnu Majah).

6. Dari Djabir Rhadiallaahu ‘anhu, dimana dia berkata,
”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya” (HR. Muslim, Ahmad, An-Nasa’i dan Abu Dawud)

Diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dan disahihkannya, redaksinya,
”Beliau melarang menembok kuburan, menuliskan tulisan padanya, membuatkan bangunan padanya, dan menginjaknya,”

Dalam lafadz An-Nasa’i :
”Beliau melarang membuat bangunan pada kuburan atau menambahnya (meninggikan) atau menemboknya atau menuliskan tulisan padanya”

Pendapat Para Ulama Tentang Menembok Kuburan

1. Imam Syafi’i berkata dalam kitab Al-Umm :
Saya menyukai bahwa tidak dibangun kuburan dan tidak dikapurkan. Karena yang demikian itu menyerupai hiasan dan kebanggaan. Dan tidaklah kematian itu tempat salah satu dari keduanya (perhiasan dan kebanggaan). Saya tidak melihat kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar itu dikapurkan.” Imam Syafi’i juga berkata, “Dan saya melihat para penguasa di Mekah menghancurkan bangunan-bangunan di atas kuburan dan saya tidak melihat ada ahli fiqih yang menyalahkan hal itu. Seandainya kuburan-kuburan itu ada di di dalam tanah milik orang yang mati tersebut ketika hidupnya atau ahli warisnya setelahnya, maka tidak dirobohkan yang dibangun darinya”. [Al-Umm, Maktabah Syamilah, Ringkasan Kitab Al Umm 1/384]

2. Imam Nawawi Asy-Syafi’i dalam kitab Syarah Sahih Muslim berkata : Sahabat-sahabat kami berkata, melepa kuburan itu makruh dan duduk di atasnya haram, demikian juga bersandar dan menguinjaknya. Adapun membangun di atasnya, apabila pada tanah milik orang yang membangun, maka makruh, dan apabila di tanah pemakaman umum, maka haram. Hal ini dinyatakan oleh Asy-Syafi’i dan para sahabatnya. [Syarah Sahih Muslim, Maktabah Syamilah].

3. Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i dalam kitab Bulughul Maram juga mengutip hadits dari Djabir Rhadiallaahu ‘anhu, dimana dia berkata,
”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya” (HR. Muslim) [Bulughul Maraam hal. 239, lihat Riyadus Shalihin 2, hal. 566]

4. Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata : Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haramnya tiga perbuatan yang disebutkan dalam hadits itu, karena keharaman itulah pada dasarnya yang terkandung dalam kalimat larangan itu.
[subulussalam 1, hal. 870].

5. Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Asy-Syafi’i dalam kitab fathul Mu’in berkata : Makruh membangun tembok dalam liang kubur atau di atasnya tanpa keperluan atau darurat, umpamanya khwatir ada yang membongkar, atau (khawatir) digali binatang buas, atau ambrol terbawa arus banjir. Karena yang demikian itu berdasarkan larangan hadits shahih.

Hal ini makruh dilakukan bilamana bangunan tersebut berada di tanah milik sendiri. Namun, kalau bangunan oitu sendiri tidak dalam keadaan darurat seperti yang sudah diungkapkan tadi (khawatir ada yang membongkar, digali binatang buas, atau ambrol terbawa arus banjir); atau membangun sejenis kubah (misalnya pagar dan sebagainya) di atas tanah kuburan tanah musabbalah, yaitu tanah yang biasa disediakan untuk mengubur mayat oleh penduduk setempat, baik diketahui asal mula penyediaannya maupun tidak, atau memang tanah wakaf, maka yang demikian itu hukumnya haram dan wajib dirobohkan, sebab bangunan tersebut akan tetap berdiri, sekalipun mayatnya sudah punah. Dengan demikian berarti mempersempit kepentingan kaum muslim lainnya yang dalam hal ini menurut syara’ tidak perlu. [Fathul Mu’in 1, hal. 498].

6. Al-Bakri Dimyati Asy-Syafi’i dalam kitab I’anatuth Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) menjelaskan : (Ucapannya Makruh membangun tembok) yakni di dalam tanah. (Ucapannya : Atau di atasnya) yakni makruh membangun di atas kuburan, yakni di atasnya. Yang dimaksud adalah di dalamnya atau di luarnya, dan tidak ada bedanya antara kubah, rumah, masjid, atau yang lainnya.

(Ucapannya : Karena sahnya larangan tentang hal tersebut), yakni tentang membangunnya. Dan larangan tentang hal itu diriwayatkan oleh Muslim, dimana dia berkata, ”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur, dan membuat bangunan di atasnya” Tirmidzi menambahkan, ”duduk di atasnya, dan menulis di atasnya, dan menginjak-injak di atasnya”
Dia berkata : Hadits ini hasan shahih. (I’anatuth Thalibin, Maktabah Syamilah)

7. Abu Yahya Zakaria bin Muhammad Al Anshary Asy Syafi’i dalam kitab Syarh Al Bahjatul Wardiyah, Al berkata : Sama saja baik bangunan itu berupa kubah, rumah, dan selain keduanya, seandainya ada di tempat pemakaman umum, maka diharamkan dan bangunannya harus dirobohkan. Dimakruhkan menulis di atasnya, baik yang ditulis itu pada papan di kepalanya sebagaimana yang biasa dilakukan sebagian orang, atau selain papan. Dan tentang makruhnya menulis nama mayat perlu dikaji ulang.
[Syarh Al Bahjatul Wardiyah, Maktabah Syamilah].

8. Ays Syaikh Al Imam Zakaria ibnu Muhammad ibnu Zakaria al Anshari Asy-Syafi’i dalam kitab Asnal Mathalib (Syarah Ar-Raudhah), berkata :
Sama saja baik bangunan itu berupa kubah atau selainnya, sama saja menulis nama si mayit atau selainnya pada papan di kepalanya atau pada selainnya, tentang hal ini dikatakan di dalam Al-Majmu’, sebagaimana dimakruhkan di atasnya, maka dimakruhkan pula membangunnya. Dalam riwayat yang shahih Rasulullah melarang kuburan dibangun. Bahkan harus dirobohkan bangunan yang dibangun di pemakaman umum, berbeda apabila dibangun di tanah miliknya sendiri. [Asnal Mathalib, Maktabah Syamilah] Catatan : Asnal Mathalib adalah kitab Syarah Ar-Raudhah (Raudhatuth Thalibin) karya Imam Nawawi Asy-Syafi’i. Sedangkan Raudhatuth Thalibin adalah kitab Ringkasan kitab Al-Aziz karya Imam Rafi. Al-Aziz merupakan syarah kitab Al-Wajiz karya Imam Ghazali.

9. Abu Al-Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi (Syarah Jami’ut Tirmidzi) berkata : Para Fuqaha Hanafiah berbeda pendapat tentang melumuri kuburan dengan tanah liat. Siraj Ahmad Syarhandi dalam Syarah Tirmidzi dan dalam Al-Burjandi berkata : Seyogyanya kuburan tidak dilepa. Adapun melumurinya dengan tanah liat dalam fatwa Al-Manshuriyah tidak apa-apa, berbeda dengan apa yang dikatakan Al-Karhi bahwasanya hal itu makruh. Dan dalam Al-Mudmaroti pendapat yang dipilih, ia tidak makruh. [Tuhfatul Ahwadzi, Maktabah Syamilah].

10. Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata : Dari Djabir Rhadiallaahu ‘anhu, dimana dia berkata, ”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya” (HR. Muslim)
Tirmidzi menyatakan kesahihan hadits tersebut dengan kata-kata berikut, ”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur, membuat tulisan, membuat bangunan di atas kubur, menambahnya, menginjaknya”
Dalam lafadz An-Nasa’i :
”Beliau melarang membuat bangunan pada kuburan atau menambahnya (meninggikan) atau menemboknya atau menuliskan tulisan padanya” Maksud menembok adalah melebur dengan adukan semen. Jumhur mengartikan larangan itu sebagai makruh, sedangkan ibnu Hazm memandangnya haram. Adapun hikmah larangan itu adalah karena kubur itu hanya untuk sementara, bukan untuk selama-lamanya. Dan menembok itu termasuk perhiasan dunia yang tidak ada manfaatnya bagi mayat. Begitulah kata sebagian ulama. [Fiqih Sunnah 2].

11. Ibnul Qayyim Al-Hanbali dalam kitab Zaadul Ma’ad berkata : Bukan termasuk tuntunan Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam meninggikan urugan kuburan apalagi mendirikan bangunan di atasnya, baik dengan batu maupun dengan batu bata. Semua itu termasuk bid’ah yang dimakruhkan dan bertentangan dengan pertunjuk beliau. Ali bin Abu Thalib pernah diutus ke Yaman dn diperintahkan untuk menghancurkan semua berhala dan semua kuburan yang melebihi permukaan tanah harus diratakan. Beliau melarang pendirian bangunan di atas kuburan dan juga menulisinya serta memagarinya. Kuburan para sahabat tidak ada yang menonjol ke atas.
[Zaadul Ma’ad 1, hal. 64].

12. Imam Asy-Syaukani dalam kitab nailul Authar berkata : Ucapan perawi Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur dalam riwayat Muslim : melarang penambahan pada kuburan ini menunjukkan haramnya menembok kuburan. Ucapan perawi dan membuat bangunan di atasnya ini menunjukkan haramnya membuat bangunan di atas kuburan. Asy-Syafi’i berkata, ”Aku telah melihat para pemimpin di Mekkah memerintahkan untuk menghancurkan bangunan di atas kuburan”
Ucapan perawi dan menuliskan tulisan padanya ini menunjukkan haramnya menuliskan tulisan di atasnya.
Ucapan perawi dan tidak pada kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya, ini mengisyaratkan,bahwa sunnahnya kuburan itu tidak terlalu ditinggikan, baik yang dikubur itu orang yang dimuliakan ataupun bukan. Konteksnya adalah meninggikan kuburan melebihi batas yang dibolehkan adalah haram. Hal ini telah dinyatakan oleh para sahabat Ahmad dan segolongan sahabat Asy-Syafi’i dan Malik.
Diantara bentuk meninggikan kuburan yang tercakup oleh hadits tersebut adalah memasang kubah atau simbol-simbol kemakmuran di atas kuburan, juga menjadikan kuburan sebagai masjid. Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang pelakunya. Berapa banyak kuburan yang dibangun dan diperindah sehingga menjadi sumber kerusakan yang layak ditangisi oleh umat islam, diantaranya adalah keyakinan kaum yang jahil terhadap kuburan-kuburan tersebut seperti keyakinan orang-orang kafir terhadap berhala. Mereka mengagungkannya dan mengira bahwa kuburan-kuburan itu mempunyai kemampuan untuk mendatangkan manfaat atau mencegah mudharat, sehingga mereka menjadikannya sebagai bahan untuk mencapai tujuan dan jalan menyelamatkan diri. Mereka meminta dari kuburan-kuburan itu hal-hal yang biasa dimohonkan oleh para hamba kepada Tuhan. Mereka mengusahakan perjalanan yang memayahkan untuk menziarahinya, mengusap-usapnya dan memohon pertolongan. Secara umum apa yang mereka seru adalah seperti yang dilakukan oleh kaum jahiliyah dahulu terhadap berhala-berhala. Innaa lillaahi wainna ilaihi rooji’uun.
[Bustanul Ahyar Muhtashar Nailul Authar 2, hal. 217-218].

Kesimpulan
Mayoritas ulama melarang menembok kuburan dan mendirikan bangunan di atasnya.

Wallahu a’lam

Penulis: Masnun Tholab (www.masnuntholab.blogspot.com)

Sumber Rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Syeikh Faishal bin Abdul Aziz, Bustanul Ahyar Muhtashar Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin, Al-Ma’arif, Bandung, 1986.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, Pustaka Azzam, Jakarta, 2000
-Maktabah Syamilah

  • irp

    mayoritas ulama melarang, tapi mayoritas umat melakukan ,apakah sosialisasi atau dakwahnya yan tidak tepat