Saturday , 25 October 2014
Kotak Kado Internasional

Hukumnya Ikut Upacara Bendera dan Menjadi Pembina Upacara?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada sebuah kaidah fikih yang mesti dipahami. Kaidah itu ialah “al-wasilah ila al-haram haram” (segala perantaraan yang membawa pada yang haram, hukumnya haram juga). (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, III/440).

Kaidah fikih ini berarti, tatkala syariah mengharamkan sesuatu, maka syariah juga mengharamkan segala wasilah (perantaraan/jalan/sarana) yang kemungkinan besar (ghalabathuzh zhann) akan mengakibatkan munculnya sesuatu yang haram itu. Segala perantaraan itu hukumnya jadi haram, baik ia berupa perbuatan (al-af’aal) maupun benda (al-asy-yaa’), meskipun tidak terdapat nash syar’i khusus yang mengharamkannya.

Contohnya, syariah telah mengharamkan zina (QS. 17: 32). Maka haram pula segala macam perantaraan yang diduga kuat akan menimbulkan zina, seperti menyewakan kamar atau rumah kepada bukan suami-isteri. Contoh lainnya, syariah telah mengharamkan khamr (QS. 5: 90). Maka haram pula segala macam perantaraan yang kemungkinan besar akan mengakibatkan konsumsi khamr, seperti menjual buah-buahan atau biji-bijian tertentu kepada pihak yang diketahui akan mengolahnya menjadi khamr.

Seperti diketahui, Islam telah mengharamkan perbuatan menyeru kepada ashabiyah. Ashabiyah adalah segala fanatisme golongan/kelompok, seperti fanatisme kesukuan, fanatisme mazhab, fanatisme kebangsaan (nasionalisme), dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda,”Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang menyeru kepada ashabiyah.” (HR Abu Dawud, hadits hasan) (Imam Suyuthi, Al-Jami’ush Shaghir, II/138).

Maka dari itu, haram juga hukumnya segala macam jalan atau sarana yang mengantarkan pada perbuatan menyeru kepada ‘ashabiyah, seperti upacara bendera atau menjadi pembina upacara. Sebab upacara bendera yang dilaksanakan di Dunia Islam saat ini, tiada lain adalah sarana atau jalan untuk menyeru dan menanamkan paham nasionalisme. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan dan membenarkan paham nasionalisme. Paham nasionalisme sebenarnya berasal dari negara-negara kafir penjajah. Paham ini sengaja dihembuskan kepada Dunia Islam untuk memecah belah kaum muslimin yang sebelumnya bersatu dalam satu kekhilafahan (Taqiyuddin an-Nabhani, Piagam Umat Islam, hal. 20-22).

Akan tetapi jika terdapat paksaan (ikrah), syara’ memberikan rukhshah (keringanan). Tidak apa-apa melaksanakan upacara bendera jika terdapat paksaan selama hati kita tetap tidak setuju.

Rasulullah SAW pada saat masih di Makkah (sebelum hijrah) seringkali terpaksa menerima kondisi yang ada, walau pun kondisi itu bertentangan dengan Islam. Saat itu, di sekitar Ka’bah terdapat banyak sekali berhala-berhala sesembahan kafir Quraisy. Rasulullah SAW tidak melakukan tindakan apa-apa, lantaran beliau dalam kondisi tertindas dan dipaksa oleh sistem jahiliyah.

Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku tindakan yang tersalah (tidak sengaja), lupa, dan yang mereka dipaksa melakukannya.” (HR Ibnu Majah & al-Baihaqi). Wallahu a’lam [Muhammad Shiddiq al-Jawi]

Pusat Souvenir Pernikahan
  • Kang Tarecha

    Sak nyocot mu weS :-)
    wong saat perang setahu saya sih sahabat Rasulullah jg membawa bendera… kalau benderanya jatuh… maka di anggap kalah… :-)

    • Falih Ulfan

      tapi kan gak ada acara upacara kang.. hehehe ,
      sebenarnya asal-usul upacara kayak sekarang tu dari mana sih?

      yang menjadi perdebatan sekarang ada 2 hal setahu saya, tentang masalah hukum upacara ini:
      1. Masalah menghormati bendera …masak benda mati dihormati, begitu katanya.
      2. Tujuannya diadaakan upacara seperti yang sedang di bahas dalam tulisan di atas.

      Tapi kok kebnayakan ulama dan cendekiawan yang asli Indonesia sepertinya gak mempermasalahkan hal-hal ini, kenapa ya?

      Lalu tulisan di atas itu sebenarnya hasil Istinbath hukum Islam yang mana? apakah Ijtihad, Fatwa, atau ijma’ ya?

      Kalau ijtihad – mujtahid tidak boleh orang sembarangan kan – harus ada syarat-syarat tertentu?

      • Kang Tarecha

        hajar aswad itu cuman benda mati… batu… tapi dicium karena Rasulullah seperti itu… Nabi Ibrahim juga…
        Sholat menghadap ka’bah … bukan menyembah ka’bah nya.. tapi Allah …
        Menghormati bendera bukan mengagung2 kan benderanya…. benderanya benda mati dan itu kain… bukan itu esensinya…
        tapi menghormati jasa para pahlawan dalam mengusir penjajah… :-)
        tanah tumpah darah yang diperjuangkan sehingga Bendera Merah Putih bisa berkibar… bukan bendera belanda atau jepang yang berkibar

        • Homhai

          Semua tergantung pada niat.. saya setuju dgn bung Kang Tarecha

      • Kang Tarecha

        silahkan ditafsirkan…
        tapi jangan anggap tafsir anda sebagai kebenaran tunggal dan hanya anda sendiri yang benar…dd
        selama tidak bisa menjamin diri sendiri masuk surga jangan menjamin orang lain masuk neraka…
        selama tidak bisa menjamin diri sendiri pasti benar jangan menjamin orang lain salah…
        dalam hal ini soal tafsir…
        Bhineka
        Tunggal Ika adalah sebuah transformasi Piagam Madinah (tafsir saya)
        dimana dimana suku2 bani2 yang berbeda, orang yahudi , nasrani juga yang
        tidak Islam, dipersatukan dengan Piagam Madinah tersebut, seperti
        halnya Bhineka Tunggal Ika… Pancasila… Bendera Merah putih yang
        dihormati karena perjuangan para pahlawan untuk mengusir penjajah….
        kalau
        gak mau mengenang jasa para pahlawan yang memperjuangkan Bendera Merah
        Putih dengan Upacara Bendera mungkin anda lebih suka dijajah oleh
        Bendera Belanda dan Jepang…..
        Ini tafsir saya…
        tafsirmu…. terserah kamu…

      • Triyatun

        maaf kemarin pengajian juga membahas ini
        masalah bendera ar-rayah dan al-liwa itu hanya sekedar simbol. Dulu pun di saat masa Rasulullah tidak ada larangan mengenai bendera, karena hanya digunakan sebagai simbol suatau wilayah agar tahu itu utusan dari mana saat terjai peperangan dan tidak untuk diperlakukan secara khusus. Tapi, yang terjadi di Indonesia berkebalikan. Pernah dengerkan ya akhi, kalau bendera merah putih tidak boleh jatuh, kotor, dan salah ketika mengibarkan. Dan saat di kibarkan kita wajib hormat dan wajib berhenti meskipun sedang mengendarai. Seolah-olah bendera itu adalah benda yang suci dan disucikan.
        Saya hanya menyampaikan ini. Karena saya tahu dan ada ilmunya. Wajib bagi saya sebagai seorang muslim untuk menyampaikan kebenaran.

        Kalau untuk kenapa para cendikiawan dan ulama tidak mempermasalahkan, mungkin saja itu akibat dari pengaruh Nasionalisme akibat sistem sekularisme yang ada di negara kita saat ini. Wallahu’alam bissawab.
        Semoga saja kita punya pendongkrak sekulerisme dan semoga saja lahir di antara kita dan kita termasuk di dalamnya yang berani berjuang demi tegaknya Islam di muka bumi ini.

        ” Wahai orang-orang yang beriman! jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S Muhammad : 7)

    • Mohamad Bagus

      itu kan cmn penanda bukan sesuatu untuk dibanggakan seperti ashobiyah

  • Kang Tarecha

    M.Quraish Shihab
    ‏@TafsirAlMishbah
    Karena itu, Cinta tanah air adalah manifestasi dari iman (Hubbul Wathan minal iman)
    M.Quraish Shihab
    ‏@TafsirAlMishbah
    Cinta tanah air adalah naluri manusia, cinta kepada tempat dimana dia lahir dan dibesarkan adalah fitrah.

  • Kang Tarecha

    M.Quraish Shihab
    ‏@TafsirAlMishbah
    Kemerdekaan adalah anugerah Allah ,Untuk itu Mari kita syukuri.

    • munir

      Kemerdekaan yg skrang bukan kmerdekaan yg hakiki, bktinya aja kemiskinan blum bsa tratasi, kekayaan alam kita di jarah oleh asing,dan seabrek msalah di negri kita ini.. kmerdekaan yg hakiki adalah dengan menerapkan syariah islam dalam bingkai khilafah, insyaAllah kita akan merdeka dari kemiskinan, merdeka dari penjajahan fisik dan mental, dan yg pling penting isyaAllah merdeka dari azab Allah di dunia dan akhirat, ammin…

      • Kang Tarecha

        silahkan ditafsirkan…
        tapi jangan anggap tafsir anda sebagai kebenaran tunggal dan hanya anda sendiri yang benar…
        selama tidak bisa menjamin diri sendiri masuk surga jangan menjamin orang lain masuk neraka…
        selama tidak bisa menjamin diri sendiri pasti benar jangan menjamin orang lain salah…
        dalam hal ini soal tafsir…
        Bhineka
        Tunggal Ika adalah sebuah transformasi Piagam Madinah (tafsir saya)
        dimana dimana suku2 bani2 yang berbeda, orang yahudi , nasrani juga yang
        tidak Islam, dipersatukan dengan Piagam Madinah tersebut, seperti
        halnya Bhineka Tunggal Ika… Pancasila… Bendera Merah putih yang
        dihormati karena perjuangan para pahlawan untuk mengusir penjajah….
        kalau
        gak mau mengenang jasa para pahlawan yang memperjuangkan Bendera Merah
        Putih dengan Upacara Bendera mungkin anda lebih suka dijajah oleh
        Bendera Belanda dan Jepang…..
        Ini tafsir saya…
        tafsirmu…. terserah kamu…

        • Mohamad Bagus

          asw
          ana mau bertanya pada kang tarecha, anda sedang membahas masalah ashobiyah yang diangkat di artikel diatas atau perjanjian aqabah ?

  • Fajar

    Katanya Islam tidak mengajarkan nasionalisme, dan itu haram kan kata pembuat artikel itu. Nah, gimana dengan Islam yang juga tidak mengajarkan menonton TV, pakai mobil, menggunakan hal2 yang modern. Apa itu haram juga?

    • Jihan

      Kalau itu beda lagi….nasionalisme itu terkait dengan paham dan ideologi masyarakat, sedangkan TV, mobil, dan barang2 modern itu tidak terkait dengan ideologi. Apalagi dengan adanya TV dan mobil justru mempermudah manusia, hal – hal yang tidak hukumnya pada hadits dan alqur’an itu hukum asalnya mubah kecuali dalam hal agama. Jadi TV, mobil, dan alat2 modern itu hukumnya mubah/diperbolehkan, selama dia masih membawa manfaat. Kalau mendatangkan kerugian yang lebih banyak atau digunakan untuk kekafiran maka bisa saja menjadi haram hukumnya…

      Kalau saya sendiri memandang selama niat kita tidak ditujukan untuk syirik, maka upacara bendera itu boleh2 saja. Toh upacara bendera tidak ada hubungannya dengan agama. Apalagi posisi pembina upacara itu sangat strategis dan bisa dijadikan ladang dakwah. Kapan lagi kita bisa berbicara didepan orang banyak secara langsung kalau bukan lewat upacara seperti ini?

  • Falih Ulfan

    maaf, kok yang dipakai rujukan pendapat adalah syeik Taqiyuddin An Nabbani? Apakah beliau juga pernah tinggal dan memahami kondisi di Negeri Melayu dan memahami sejarahnya?

    Bagaimana dengan kaidah Taqhoyirul Ahkam Bi tagoyirul amkan wa azman?

    • Hadi Mulyono

      maaf,
      1. bisa dijelaskan mengenai yang anda maksud dengan “Taqhoyirul Ahkam Bi tagoyirul amkan wa azman”? beserta contoh nyata juga jika berkenan.
      2. kaidah tersebut diperoleh dari kitab karya siapa?

      • Falih Ulfan

        maaf juga, ternyata bunyinya kaidah fikihnya bukan seperti itu, tapi

        “Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman” Yaitu berubahnya hukum (masalah furu’, muamalah, duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman.

        saya juga kurang paham maksudnya, makanya di atas saya tanyakan kepada penulis dan kaitannya dengan topik yang dibahas.

        posisi saya sebagai penanya. dulu waktu di kelas sering mendengar adanya kaidah ini. Biasanya dibahas di kitab-kitab Qowaid Fiqiyah.

  • Falih Ulfan

    lalu Asshabiyah makna aslinya kesukuan bukan? Bukannya Nasionalisme telah mempersatukan suku-suku?

    bagaimana juga dengan Ayat Alquran yang menyatakan bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dalam berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal(ta’aruf)?

    bukankah secara sekilas ayat tersebut menggambarkan kondisi dunia saat ini?

    • pebidiansyah

      Ashabiyah adalah segala fanatisme golongan/kelompok, seperti fanatisme
      kesukuan, fanatisme mazhab, fanatisme kebangsaan (nasionalisme), dan
      sebagainya. Rasulullah SAW bersabda,”Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang menyeru kepada ashabiyah.” (HR Abu Dawud, hadits hasan)

      Memang masyarakat itu terdiri dari berbagai suku, mazhab, kebangsaaan. Dalam Islam yang bisa mempersatukan itu bukan hal di atas, Tapi ikatan aqidah, ikatan Islam. Jadi tidak boleh terpecah-pecah oleh batas wilayah (nation state).

      • Falih Ulfan

        Tapi kalau setahu saya yang dimaksud fanatisme itu sikap membela secara berlebihan dan tidak mau tahu apakah yang dibelanya berkeadilan atau tidak. Apakah Nasionalisme itu selalu Fanatisme?

        kira-kira dimana ya saya bisa menelusuri sejarah paham nasionalisme ini?

      • Kang Tarecha

        gimana dengan Piagam Madinah yang mempersatukan seluruh warga Madinah yang berbeda2 ada yang nasrani, ada yang yahudi, ada yang majusi… (yang tidak “Tapi ikatan aqidah, ikatan Islam.”)

  • lidui

    Yaaaahhh,,,!!! ini kan yang nulis kyainya orang HIZBUT TAHRIR INDONESIA,,!!! Yang sangat menentang dengan paham selain kehilafahan,,,!!!! So, ya tentulah mengharamkan upacara bendera,,,!!! terus kalo’ upacara bendera haram, berarti dosa dong orang yang upacara bendera, berarti MENTERI AGAMA, PRESIDEN, serta para undangan yang memakai peci item itu dosa semua,,,!!! bahkan Gus durpun juga berdosa ya,,,!!!! wuih kasian orang indonesia semua berdosa,,,!!!! Apa yang nulis

    “Hukumnya Ikut Upacara Bendera dan Menjadi Pembina Upacara ini yang dosa
    “???? seenaknya ndiri kalo memberi fatwa,,,!!!! waaaah parah nie orang,,,!!!! belum lagi fanatisme, katanya islam melarang fanatisme, tapi kok yang nulis ini, fanatik sekali yaaaaaa dengan HIZBUT TAHRIR,,,,!!! hAYooooooo,,,,

    • Mohamad Bagus

      fanatisme yang mana ya yang saudara maksud ?
      bukannya upacara bendera tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah saw ?
      memang ada paham yang lain yang disebutkan oleh allah swt dan rasulullah saw selain pemahaman tentang hukum dasar umat islam adalah syariat islam ?
      satu pertanyaan lagi apakah rasul pernah mencontohkan cara pemerintahan lain selain cara kekhilafahan misalnya republik, manarki gt, pernah gk anda tahu ?
      kalo yang pernah upacara dosa, anda lihat saja di qur’an dan hadist
      wallahua’lamubissawab

  • Kang Tarecha

    silahkan ditafsirkan…
    tapi jangan anggap tafsir anda sebagai kebenaran tunggal dan hanya anda sendiri yang benar…
    selama tidak bisa menjamin diri sendiri masuk surga jangan menjamin orang lain masuk neraka…
    selama tidak bisa menjamin diri sendiri pasti benar jangan menjamin orang lain salah…
    dalam hal ini soal tafsir…
    Bhineka Tunggal Ika adalah sebuah transformasi Piagam Madinah (tafsir saya) dimana dimana suku2 bani2 yang berbeda, orang yahudi , nasrani juga yang tidak Islam, dipersatukan dengan Piagam Madinah tersebut, seperti halnya Bhineka Tunggal Ika… Pancasila… Bendera Merah putih yang dihormati karena perjuangan para pahlawan untuk mengusir penjajah….
    kalau gak mau mengenang jasa para pahlawan yang memperjuangkan Bendera Merah Putih dengan Upacara Bendera mungkin anda lebih suka dijajah oleh Bendera Belanda dan Jepang…..
    Ini tafsir saya…
    tafsirmu…. terserah kamu…

  • David

    setelah membaca semua komentar diabwah, saya sendiri jadi bingung, padahal baru 6 bulan jadi muslim, khog repot sekali ya. Apa apa diatur, kalau tidak mencontoh nabi, bid’ah hukumnya. Padahal nabi hidup di abad ke VI, sedangkan kita hidup di abad XXI, tentunya banyak hal hal yang berbeda. Ah … pusing kepala, mending nonton TV (terserah mau dilarang atau tidak)

Partisipasi Via Email Redaksi