Mengaku Jadi Nabi: Orang Paling Zhalim

Detik Islam.Com Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: Telah diwahyukan kepada saya, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): Keluarkanlah nyawamu Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya (Terj. QS al-Anam [6]: 93).

Nabi Muhammad SAW adalah khâtam al-nabiyyîn yang berarti penutup nabi (QS al-Ahzab [33]: ). Dalam Hadits-hadits mutawatir juga ditegaskan tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau. Risalah yang beliau bawa juga risalah terakhir. Berlaku untuk seluruh manusia hingga akhir zaman (QS Saba [34]: 28, al-Araf [7]: 158). Sehingga siapa pun orang yang meyakini masih ada nabi atau Rasul setelah Nabi Muhammad SAW bisa dinyatakan telah keluar dari Islam alias murtad. Ini adalah perkara yang telah disepakati oleh seluruh kaum Muslim.

Itulah yang terjadi pada pengikut Ahmadiyyah. Dengan menyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Rasulullah SAW telah mengantarkan mereka kepada kekafiran. Sedangkan Ghulam Ahmad sendiri, yang mengaku sebagai nabi, disamping kafir juga al-kadzdzâb (pendusta besar). Julukan itu amat layak disematkan kepadanya lantaran berani berdusta atas nama Allah SWT. Selain itu, dia juga ditetapkan sebagai orang paling zhalim. Sebagai akibatnya, dia diancam dengan siksaan yang amat keras. Bukan hanya ketika di akhirat kelak, namun juga saat menghadapi sakaratul maut. Ancaman tersebut diberitakan dalam QS al-Anam [6]: 93.

Orang-orang yang Paling Zhalim

Allah SWT berfirman: Waman adhlamu min man [i]ftarâ alâLlâh kadzib[an] (dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah). Ayat ini kendati berbentuk istifhâm (kalimat tanya), namun bermakna nafî. Menurut al-Razi, bentuk tersebut memberikan efek takhwîf (untuk menakut-nakuti). Maknanya sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir dan al-Sadi tidak ada seorang pun yang lebih zhalim melebihi orang-orang yang membuat kedustaan atas nama Allah SWT, dengan menjadikan sekutu atau anak bagi-Nya, dan mengaku bahwa Allah SWT mengutusnya sebagai rasul padahal faktanya tidak.

Selain Ibnu Katsir, banyak mufassir al-Thabari, al-Qurthubi, al-Zamakshsyari, al-Razi, al-Baghawi, al-Syaukani, al-Baidhawi, dan al-Khazin, menyebutkan bahwa orang-orang yang berdusta dengan mengaku sebagai nabi dan rasul adalah yang dimaksudkan ayat ini. Beberapa nama pun disebutkan sebagai contohnya, seperti Musailamah dan al-Aswad al-Anasi. Semuanya mengaku sebagai nabi.

Jika mereka semua disebut lantaran mereka mengaku sebagai nabi, ketentuan itu pun terus berlaku hingga akhir zaman. Dengan demikian Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai nabi dan mendirikan ajaran Ahmadiyyah bisa dimasukkan di dalamnya.

Menurut al-Syaukani, berdusta atas nama Allah SWT tidak hanya yang mengaku sebagai nabi, namun juga tentang seswuatu apa pun. Al-Sadi juga menyatakan, berdusta atas nama Allah SWT adalah menisbahkan kepada Allah SWT, baik ucapan maupun hukum, padahal Allah SWT berlepas darinya. Pendapat senada dikemukakan pula oleh al-Jazairi.

Dilihat dari lafadznya ayat ini memang bersifat umum, tidak hanya menyangkut pengakuan sebagai nabi. Dalam ayat lainnya, konteks berdusta atas nama Allah SWT disebutkan dalam beberapa tindakan, seperti tindakan syirik, yang menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan (lihat QS al-Araf [7]: 37, al-Kahfi [18]: 15), mengharamkan beberapa jenis binatang tanpa petunjuk dari-Nya (lihat QS al-Anam [6]: 144), dan menuduh Rasulullah membawa sihir yang nyata (lihat QS al-Shaff [61]: 6).

Selain ayat ini, ada banyak ayat yang menetapkan bahwa orang-orang yang berdusta atas nama Allah SWT ini adalah orang yang paling zhalim, seperti QS Ali Imron [3]: 94, Yunus [10]: 17, Hud [11]: 18, al-Ankabut [29]: 68.

Kemudian Allah SWT berfirman: aw qâla ûhiya ilayya walam yûha laihi syaiy (atau yang berkata: Telah diwahyukan kepada saya, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya). Mengaku telah mendapatkan wahyu, padahal faktanya tidak demikian adalah salah satu bentuk kebohongan atas nama Allah SWT. Bedanya jika frasa sebelumnya bersifat umum, frasa ini bersifat khusus. Ini menunjukkan betapa besar dosa berdusta menjadi nabi sehingga diberi penekanan secara khusus. Ketika seorang mengaku mendapatkan wahyu dan menjadi nabi, besar kemungkinan akan mencari pengikut. Jika ada yang percaya, turut tersesat. Itu berarti, dia menyesatkan dan menjerumuskan banyak orang. Ini seperti yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad. Agen Inggris ini mengaku menjadi nabi dan mendapatkan wahyu. Dengan bantuan Inggris dan kafir penjajah lainnya, ajarannya tersebar di berbagai negara hingga kini. Banyak orang yang murtad dan tersesatkan oleh kebohongannya.

Orang yang paling zhalim berikutnya adalah orang yang mengaku bisa menurunkan seperti wahyu yang diturnkan Allah SWT. Alllah Swt berfirman: waman qâla saunzilu mâ anzalaLlâh (dan orang yang berkata: Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.). Menurut al-Alusi, ini adalah celaan terhadap Rasulullah SAW. Al-Baghawi berpendapat, ucapan ini merupakan ejekan. Sementara Ibnu Katsir menyimpulkan, itu adalah perkataan orang-orang yang membantah wahyu dari dengan ucapan yang dibuat-buat. Hal ini seperti yang disampaikan Allah dalam firman-Nya: Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (al-Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala.”(TQS al-Anfal [8]: 31).

Mendapat Siksaan Saat Sakatarul Maut

Orang-orang yang paling zhalim itu akan mendapatkan siksaan yang pedih. Tidak hanya di akhirat kelak. Namun juga ketika nyawanya dicabut oleh malaikat maut. Allah SWT berfirman: walaw tarâ idz al-zhâlimûna fî ghamarâti al-mawt (alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan sakratul maut). Frasa walaw tarâ ditujukan kepada Rasulullah SAW. Juga, setiap orang yang layak untuk itu. Kata al-zhâlimûn berlaku untuk semua orang zhalim. Termasuk prioritas utamanya adalah orang-orang yang ingkar terhadap apa yang diturunkan Allah SWT dan mengaku sebagai nabi. Demikian penjelasan al-Syaukani dalam tafsirnya, Fath al-Qadîr. Sementara ghamarât (berasal dari ghamrah) berarti kepedihan dan kesengsaraan. Hal ini menunjukkan betapa menyakitkan keadaan mereka saat sakaratul maut.

Kesengsaraan dan kepedihan mereka bertambah tatkala malaikat yang mencabut nyawanya bertindak kasar. Allah SWT berfirman: wa al-malâikah bâsithû aydîhim akhrijû anfusakum (sedang para malaikat memukul dengan tangannya, [sambil berkata]: Keluarkanlah nyawamu). Kata bâsithû aydîhim menurut Ibnu Katsir bermakna dengan pukulan. Makna kata tersebut sejalan dengan yang ada dalam QS al-Maidah [5]: 28 dan al-Mumtahanah [60]: 2. Al-Dhahak sebagaimana dikutip Ibnu Katsir memaknainya dengan azab. Keadaan tersebut seperti yang digambarkan dalam firman Allah SWT: Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar, (tentulah kamu akan merasa ngeri) (QS al-Anfal [8]: 50). Dengan demikian, kata Ibnu Katsir, frasa ini memberikan makna bahwa mereka dipukul hingga nyawa mereka keluar dari jasad mereka.

Tak hanya menyakitkan, siksaan itu juga menghinakan mereka. Allah SWT berfirman: al-yawm tujzawna adzâb al-hûni (di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan). Menurut al-Alusi, kata al-yawm berarti zaman secara mutlak. Bisa berarti waktu ketika mati, bisa pula sesudahnya. Pada saat itu mereka benar-benar mendapatkan siksa yang menghinakan. Tak tersisa lagi kebesaran dirinya saat masih hidup. Kekuasan yang membuatnya sombong sama sekali tak dapat menolong dirinya. Bawahannya yang semasa hidupnya selalu tunduk juga tak bisa berbuat apa-apa. Demikian pula kekayaan melimpah yang dibangga-banggakan.

Jika mereka harus menerima siksaan yang amat dahsyat, itu adalah balasan atas kejahatan yang mereka lakukan. Pertama, karena berdusta atas nama Allah SWT. Allah SWT berfirman: bimâ kuntum taqûlûna alâLlâh ghayr al-haqq (karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah [perkataan] yang tidak benar). Huruf bi dalam frasa ayat ini bermakna sababiyyah. Artinya, siksaan dahsyat yang mereka terima itu disebabkan tindakannya membuat kedustaan atas nama Allah SWT.

Kedua, sombong terhadap ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman: Wakuntum âyâtihi tastakbirûn ([karena] kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya). Yakni mereka menolak untuk membenarkan dan mengamalkan ayat-ayat-Nya. Demikian penjelasan al-Syaukani. Hukuman berat yang ditimpakan mereka itu merupakan balasan setimpal atas kejahatan mereka. Siksa selama berabad-abad di neraka jahannam yang di dalamnya tidak ada kesejukan dan minuman kecuali air mendidih dan nanah bagi orang-orang yang melampaui batas (QS al-Naba [78]: 21-25), yakni orang-orang yang tidak takut terhadap hisab dan mendustakan ayat-ayat-Nya (QS al-Naba [78]: 27-28) disebut Allah SWT sebagai: Jazâ[an] wifâq[an] (sebagai pambalasan yang setimpal).

Demikianlah siksa besar yang ditimpakan Allah SWT kepada orang-orang yang membuat-buat kedustaan atas nama Allah SWT, mengaku mendapatkan wahyu, dan mengaku bisa menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah SWT. Agar ocehannya tidak tersebar luas di tengah masyarakat dan pada akhirnya menjerumuskan banyak orang, tentu harus dicegah. Melegalkan mereka, apalagi memenghapus stempel sesat bagi mereka, sama halnya membiarkan masyarakat tersesatkan oleh mereka. Bukankah itu tindakan yang tidak kalah zhalimnya?

WaLlâh alam bi al-shawâb.

Leave a Reply

Your email address will not be published.